Jumat, 04 Januari 2013

Sekolah Alam Medan Rangkul Anak Berkebutuhan Khusus | SWA.co.id

Sekolah Alam Medan Rangkul Anak Berkebutuhan Khusus | SWA.co.id


Sekolah Alam Medan Rangkul Anak Berkebutuhan Khusus

2
Bisnis pendidikan tak pernah sepi pemain. Namun berbeda halnya dengan pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Tantangan dalam menghadapi ABK yang tidak mudah itu kerap menyurutkan langkah pelaku industri pendidikan. Namun hal tersebut tak berlaku bagi keluarga Andreas Saputro.
Hasil Karya Siswa Sekolah Alam Medan
Pria yang akrab disapa Sukendro ini mendirikan Sekolah Alam Medan yang menyasar ABK seperti anak-anak autis, down-syndrome, dyslexia, hingga terlambat kognitif. Berbeda dari sekolah umumnya, Sekolah Alam Medan hanya menangani sekitar 70 anak-anak yang ‘berbeda’ dengan berbagai usia. Silabus pun khusus disusun untuk tiap anak. “Program belajar kami mengikuti kemampuan anak,” tutur pria jebolan Manajemen Bisnis di salah satu perguruan tinggi Filipina.
Elisabeth Lily, istri Sukendro merancang berbagai aktivitas luar ruangan bagi anak-anak istimewa ini. Aktifitas tersebut antara lain membuat tempe, mendaur ulang sampah dan barang bekas, naik gerobak sapi, dan berbagai permainan edukatif serta menyenangkan lainnya. Ada pula siswa Sekolah Alam Medan yang enggan dengan aktifitas luar ruangan dan memilih menekuni komputasi. “Karena minatnya di situ, kami mengikuti,” kata Liliy. Hebatnya, setelah lulus kejar paket C, siswa tersebut melanjutkan pendidikannya di Universitas Airlangga Surabaya, berbaur bersama mahasiswa normal lain. Setelah lulus, ia pun melanjutkan hidupnya dengan berbagai bisnis di internet.
Dalam sehari, Sekolah Alam Medan membagi kegiatannya ke dalam 6 sesi belajar dan 2 sesi olahraga setiap harinya. Siswa yang berusia 15 sampai 20 tahun tersebut ditarik uang sekolah dari Rp 1 juta sampai Rp 2 juta per anak. “Tidak ada syarat masuk. Kami hanya melihat apakah kami mampu menangani anak ini atau tidak,” tutur Lily.
Di dua bulan pertama, Lily dan tenaga pengajar lain meraba minat siswa tersebut. Setelah berhasil memetakan minat, barulah mereka menyesuaikan program belajar yang sesuai dengan kegemarannya. Beberapa kegiatan yang paling diminati siswa Sekolah Alam Medan antara lain bermusik, komputasi, dan berkebun. Khusus untuk berkebun, mereka bekerja sama dengan JICA (Japan International Corporate Agency) membuat pupuk kompos dari sampah organik.
Bermodal Rp 200 juta, Sekolah Alam Medan mempekerjakan 30 orang guru. Tentu tidak mudah menjadi tenaga pengajar di sini. Anak-anak istimewa hanya bisa dididik tenaga pengajar yang tidak biasa. “Yang bertahan lama memang yang bekerjanya karena hati. Kalau yang istilahnya sekedar cari pekerjaan daripada nganggur begitu cuma bertahan satu atau dua bulan,” Lily menjelaskan. Salah satu guru Sekolah Alam Medan bahkan menjuarai perlombaan mengajar yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Kota Medan, mengalahkan tenaga pengajar sekolah normal.
Bisnis Tempe Ala Sekolah Alam Medan
Sukendro, Lily, dan putrinya, Abi, keluarga pendiri Sekolah Alam Medan
Untuk menunjang kegiatan belajar, beberapa hasil kegiatan siswa Sekolah Alam Medan diperdagangkan. Tempe, misalnya. Tak sedikit siswa Sekolah Alam Medan menyukai kegiatan pembuatan tempe. Dengan tekun mereka menguliti biji kedelai satu per satu sampai benar-benar bersih, barulah kemudian kedelai diragi hingga jadi tempe.
Ketekunan mereka pun membuahkan hasil. Tempe dijual di kalangan sendiri, wali murid. Karena kebersihannya yang terjamin, Sekolah Alam Medan pun tak jarang kebanjiran pesanan. Biasanya, kegiatan tersebut memanfaatkan 2 sampai 3 kilogram kedelai per hari. Tiap kilonya menghasilkan 12 bungkus tempe, masing-masing 15 gram. Tempe hasil kegiatan 2 sesi ini dibanderol Rp 5.000 untuk 3 bungkus.
“Banyak yang suka, soalnya kebersihannya terjamin. Kalau tempe di luar kan membersihkannya pakai kaki, ibu-ibu suka jijik. Makanya setiap kami jual tempe selalu laris,” tutur Lily kepada SWA Online. Meski demikian, bukan berarti siswa Sekolah Alam Medan dijadikan buruh tempe. Mereka tidak pernah dipaksakan membuat tempe, sehingga pemesan pun juga harus memahami hal tersebut. “Kami tidak pernah berpikir untuk jualan, yang penting anak-anak ada kegiatan,” lanjutnya.
Kegiatan membuat tempe memang salah satu aktivitas yang digemari siswa Sekolah Alam Medan. Kegiatan tersebut dinilai mudah diikuti. Minggu pertama, mereka melihat contoh dari gurunya. Setelah minggu kedua, sang guru sudah tidak perlu mencontohkan, cukup memberi arahan lisan. Hingga menghasilkan tempe layak jual, diperlukan waktu sekitar 4 hari.
Menyulap Barang Bekas Jadi Barang Cerdas
Aktivitas lain yang tak kalah menarik bagi siswa Sekolah Alam Medan adalah mendaur-ulang barang-barang bekas, sampah plastik, dan kertas menjadi barang yang bermanfaat seperti tas, buku tulis, dan mainan. Mainan yang dihasilkan pun bukan sembarang mainan, melainkan edukatif yang cerdas.
Sekolah Alam Medan bekerja sama dengan Yayasan Muda Tzuchi untuk menyuplai barang bekas. Metode pengajarannya tidak jauh berbeda dengan pembuatan tempe. Guru mencontohkan pembuatannya, kemudian para siswa mengikutinya. Lily biasanya mendapat ide permainan, kemudian dicobakan kepada putri sematawayangnya, Angeline Abigail Saputro. Tak heran bila gadis 5 tahun yang dibesarkan dari didikan homeschooling ibunya sendiri begitu lancar menjelaskan kegunaan tiap barang hasil daur ulang tersebut.
Barang-barang tersebut kemudian dilabeli Sanggar Kreatifitas Anak Indonesia dan dijual dengan harga Rp 5.000 sampai Rp 10.000. Setiap hari Senin hingga Kamis, mereka menjualnya di sekolah-sekolah di Medan. Selain itu barang tersebut juga tersedia di salah satu toko buku terkemuka dan restoran tempat komunitas pemerhati ABK biasa berkumpul.
Bisnis sosial ini membawa Sekolah Alam Medan dan Sukendro sebagai salah satu finalis Community Entrepreneur Championship yang diselenggarakan British Council dan Arthur Guinness Fund. Sukendro berencana mengembangkan tempat workshop dan menambah peralatan terapi untuk ABK di sekolahnya. (EVA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar